Copyright © The Journal
Design by Dzignine
modified by @nakhaira
April 17, 2012

My Love to English

Apa yang bisa bikin harimu sangat sedih sampai bikin kamu pengen nangis sejadi-jadinya? Buat saya, salah satunya adalah menemukan kenyataan bahwa lidah saya terasa kelu sore ini ketika membaca keras-keras sebuah artikel yang saya temukan di laman fb seorang teman. How can in this world this happen? Saya syok bukan main mendengar diri saya sendiri berulang kali salah menyebutkan pengucapan beberapa kata atau kalimat bahasa Inggris. Hati saya langsung panas dan dibalut emosi. Kok bisa, sih?!

Hal pertama yang melintas di pikiran adalah mungkin karena saya tidak pernah lagi mempraktekkan bahasa Inggris seperti waktu masih bersekolah dulu. Gimana nggak, saya dulu ikut kursus bahasa Inggris 2 kali dalam seminggu dan selalu ada praktek ngomong dan bercakap-cakap di depan kelas dalam pembelajaran bahasa Inggris tersebut selain mempelajari grammar dan menulis (yang menurut saya menarik banget!). Namun, setelah masuk kuliah, saya otomatis tidak melanjutkan kursus lagi dan benar-benar berhenti belajar bahasa Inggris, tidak ikut kursus sama sekali. Saya pikir, masih bisalah nambah-nambah vocabularies lewat baca komik online dan memperbanyak baca artikel berbahasa Inggris di internet. Tapi, ternyata pikiran saya itu salah besar! Penguasaan bahasa Inggris saya, yang awalnya bisa dibilang "active" lama kelamaan berubah menjadi "passive". Jujur, saya sangat kecewa dengan diri saya sendiri saat ini. Saya merasa setelah kuliah, kualitas diri saya jatuh merosot ke titik rendah dan menjemukan. Saya juga menjadi pribadi yang penyendiri dan cukup pemurung serta pesimis. Entahlah kenapa sebabnya. Tapi, saya menduga-duga beberapa hal sebagai pencetusnya. Saya juga makin sinis dan egois saja rasanya terhadap lingkungan di sekitar.
Mungkin menurut kamu, ketidakbisaan mengucap bahasa Inggris ini adalah hal yang sangat teramat sepele ya. Namun, bagi saya, fakta ini merupakan mimpi buruk sekaligus sesuatu yang pahit yang pernah saya hadapi. Saya sangat cinta bahasa Inggris selain tentunya mencintai bahasa Indonesia, bahasa Indonesia. Saya suka bagaimana bule-bule Amerika di tivi atau youtube yang saya tonton berbicara memakai bahasa itu disertai gerak tubuh mereka yang khas. Apalagi setelah saya kenal dan mendengar aksen Inggris British/Britania Raya lewat film Harry Potter. It is sooo heaven! beuatiful and posh! Saya suka sekali dengan kerumitan sekaligus keindahan dalam pelafalan setiap kata dan kalimat dari bibir para artis dan aktor dalam film tersebut. Walaupun kadang, saya sering kali tergugu dan tercenung karna tidak bisa mencerna beberapa kalimat karna pelafalan orang Inggris tersebut yang sungguh rumit :p. Saya terkesima dan ingin bisa bercakap-cakap seperti mereka rasanya. Bahkan, saya pernah punya cita-cita untuk bisa tinggal dan membesarkan anak-anak saya disana suatu hari nanti, haha. Who knows?  
Cinta terhadap bahasa itu memang tidak tumbuh dengan cepat, pasti melewati proses tertentu yang panjang dan mungkin melelahkan. Jujur, saya pernah membenci bahasa Inggris kala masih berstatus siswa SMP. Saya tidak paham dengan bahasa itu dan alergi ketika harus bertemu dan menekuninya di sekolah. Hal ini diperparah saat saya merasa dipermalukan oleh dua orang teman waktu kelas 1 SMP ketika ditunjuk oleh guru untuk mengenalkan diri di depan kelas. Saya terbata-bata dan tidak tahu harus mengucapkan apa dan merangkai kata demi kata agar menghasilkan kalimat perkenalan dalam bahasa Inggris yang baik. Apakah udah bener begini ya susunan kalimatnya? Aduh, apalagi nih bahasa Inggris buat kalimat ini? Duh, duh... malu banget kalau salah ntar di depan kelas, pikir saya. Yah, In the end, I never forget how that two friends humiliated me with their own way in front of many other friends. I was hurt and ashamed at that time. Since that day, I was always afraid of English.
Saya sangat bersyukur dan berterima kasih sebesar-besarnya kepada papa karena mendaftarkan saya di sebuah kursus yang dikelola oleh pak Joko Jatmiko - mantan guru SMPN 1 Padang, tempat saya bersekolah waktu itu - yang mengubah total persepsi saya terhadap bahasa ini. Beliau-lah yang membantu saya menemukan keindahan di balik grammar dan vocabularies. Modul-modul beliau penuh manfaat dan sangat membantu saya. Beliau juga yang membatu saya untuk mencintai dan menyayangi bahasa ini. Berkat semangat dan dorongan kata-kata positif beliau, saya akhirnya jatuh cinta sepenuhnya pada bahasa ini dan berhasil keluar dari lubang hitam ketakutan yang selama ini menelan dan membelenggu saya. Saya suka dengan cara mengajar beliau, sangat jelas, terstruktur, dan mudah diterima oleh otak saya yang buntu. Tidak seperti sekarang, dulu murid-muridnya masih sedikit, jadi saya lebih sering diajar beliau ketimbang asistennya.
Sejak saya tamat SMA hingga saat ini, hanya sesekali saya melihat beliau di tempat kursusnya, selalu dengan senyum yang melekat di wajahnya. Sayangnya, saya tak pernah punya kesempatan untuk berbincang-bincang ringan lagi dengan beliau. Terselip rindu di hati saya untuk kembali belajar mencintai bahasa Inggris di sana lagi. Mungkin, setelah tamat dan ditempatkan bekerja ke daerah nanti (mama mendoakan saya kerja di Kota Padang aja! Amin ya Allah, amiiin), saya akan mencoba menemui beliau dan meminta izin untuk mengajar di tempat kursusnya, seperti yang dulu pernah ditawarkannya kepada saya saat saya masih kelas tiga SMP, hehe :))
*dedicated to Mr Joko Jatmiko, the best teacher I've ever met in my whole life who teach with heart & much love*

0 comments:

Post a Comment

What do you think?

Tell me your thoughts...