Copyright © The Journal
Design by Dzignine
modified by @nakhaira
December 31, 2012

Bersiap-siap Untuk Sang Jodoh

Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah.
"Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisiMu, pasangan yang juga menjadi sahabat kami dalam urusan agama, dunia, dan akhirat."
December 30, 2012

Abis Liburan

Nggak nyangka aja deh udah di kosan lagi setelah seminggu full liburan ke Bogor dan Bandung bareng keluarga. Bakalan berasa sepi lagi nih di kosan kayak zaman kuliah dan ngeskripsi dulu karna nggak ada temen main yang oke lagi kayak Nora dan Nila, adek-adek kiyut saya >,<. Tapi udah risiko dan takdir emang yah musti ditinggalin sendirian di Jakarta lagi, saya kudu ngejalaninnya dengan ikhlas, santai, dan hati riang aja, kan hidup dan magang di rantau orang gini juga demi mewujudkan masa depan yang cerah! Siiip... Semoga aja deh pas penempatan nanti diberi kesempatan oleh Allah buat kerja di Padang, biar banting tulang dan ngusahain ketemu jodoh juga sama urang awak *ehemmm* :))

Awalnya niat nulis lagi setelah vacuum lama tuh karna pengen nyeritain soal liburan saya yang seru itu di blog ini, tapi apa daya, foto-foto penunjang belumlah cukup. Jadi, segini dulu aja deh apdetan pasca liburannya. Moga-moga post berikutnya bisa di apdet lebih cepet. Aaah capeknya nih badan...

Liburan ohhh liburan... bikin nagih ihh!

PS: baju kotor yang mau di-laundry tinggi udah makin tinggi ajah tumpukannya di luar *langsung males liatnya* -___-"
December 22, 2012

My Lovely Sister

Belanja untuk yang ketiga kalinya di My Lovely Sister pake duit terakhir T.T. Toko maya yang satu ini bener-bener bikin saya ngiler beud ama produk-produk skincare dan makeup Korea yang dijualnya. Pasti saya akan belanja di sini lagi pas udah punya gaji nanti :). Kali ini saya beli beberapa sampel in jar dulu buat nyobain beberapa produk yang dipengenin seperti Dewytree, Atomy BB cream, Selenia Pearl BB cream dan juga Dewytree Sleeping Mask. Semoga produk-produk yang udah dibeli ini cocok!


#UPDATE

Setelah beberapa hari pakai dan mencoba produk-produk di atas, saya bisa simpulkan kalau saya suka banget sama Dear Darling Lip Tint dari Etude House karena warna merah yang diberikannya saya setelah dua kali oles di bibir saya benar-benar merah darah. Bibir saya jadi terlihat lebih segar dan terkesan seksi, aih! Untuk mendapatkan bibir lembab dan merah tersebut biasanya saya lebih dulu mengalikasikan lip balm pada bibir sebelum dipakein lip tint ini. Kalau untuk sehari-hari, saya lebih suka memakai lip tint ini tipis-tipis (1 kali oles) agar bibir tidak keliatan terlalu berat dan too much. http://media.tumblr.com/49815f08a66fc3c3881b60fd38ac5654/tumblr_inline_mg80krR4jV1qid2nw.gif

penasaran banget sama lip tint ini
Sedangkan produk lain yang menurut saya belum memberikan hasil kayaknya Dewytree Acne Series. http://media.tumblr.com/tumblr_m9rakfACkK1qdlkyg.gif
November 30, 2012

Donor Darah ke-3

Alhamdulillah... Hari ini saya masih diberi kekuatan dan kesehatan buat kembali mendonorkan darah untuk yang ketiga kalinya. Kali ini saya mendonor di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Padang setelah sempat vakum selama tujuh bulan dan 29 hari. Sehari sebelum kemarin, saya nggak kepikiran sama sekali buat donor selama liburan di rumah ini, tapi, karena waktu lagi jalan keluar berdua sama mama nggak sengaja liat kantor PMI pusat Sumbar di Sisingamangaraja, saya jadi ingat dan kembali niat buat donor. Namun, berhubung kemarin cuacanya panas banget banget maka niat buat donor batal padahal mama udah berhasil saya bujuk buat nemanin ke PMI. Okedeh, nggak papa.

Saya jadinya pergi bareng papa karena mama ada acara lain tadi. Kita berangkat jam 11-an dari rumah. Malam sebelumnya saya tidur cepat demi menjaga kondisi badan tetap fit dan bugar, sekalian saya juga nyempatin buat nyari info mengenai tempat buat donor di Padang. Awalnya saya sangka donornya bisa dilakukan di kantor PMI provinsi ataupun PMI kota, tapi ternyata ada tempat tersendiri yang dibangun khusus bagi para pendonor dan pencari darah, yaitu UTD PMI Kota Padang yang terletak di Jalan Sawahan II No. 12.

Saya bener-bener nggak ingat pernah lewat dan liat palang UTD PMI ini pas pulang pergi sekolah dulu pas zaman SMP dan SMA. Alhasil, saya dan papa nyasar kemana-mana buat nyari gedungnya, nanya sana sini sama orang-orang -.-". Tapi, pada akhirnya kami berhasil sampai ke sana. Nyampe sana saya bisa lihat nggak banyak orang yang mendonor hari ini. Hanya ada seorang laki-laki gemuk tengah diambil darahnya.

Saya dan papa duduk, lalu saya mengeluarkan kartu donor dan menyerahkannya ke petugas wanita di depan saya. Lalu, saya diminta mengisi formulir yang disediakan untuk melengkapi registrasi dan merekam riwayat kesehatan. Nggak pake lama, petugasnya meminta jari saya buat periksa Hb. Alhamdulillah, normal dan dinyatakan bisa donor. Lanjut giliran papa dicek golongan darahnya oleh petugas karena beliau baru pertama kali donor dan juga nggak tahu golongan darahnya apa --.--". Duh!

Setelah dites, ternyata golongan darah saya dan papa sama-sama AB! Berarti abang dapat golongan darah A dari mama, dan saya dapat golongan darah AB dari papa. Heheu, papa selama ini salah ngasih info mengenai golongan darahnya, masa iya papanya A, mamanya A, anaknya jadi AB sih! Nah, jadi penasaran sama golongan darah adek-adek yang lain apaan.

Lanjuuut. Jadi, karena kami berdua sama-sama bisa donor, kami di"oper" oleh petugas yang memeriksa tadi ke dokter jaga cewek (yang masih keliatan muda) guna memeriksa kesehatan kami pada hari itu. Alhamdulillah ya, hasilnya bagus, dokter menyatakan tekanan darah kami normal dan sehat. Kami dipersilakan mendonor di ruangan seperti tampak pada gambar di bawah ini:


Yang ngambil darah saya waktu itu ibu-ibu berumur kira-kira 50 tahun-an. Agak kurang cekatan kerjaanya dibandingkan dengan petugas yang pernah mengambil darah saya sebelum ini. Tapi, yang penting saya bersyukur karena petugasnya teliti dan saya nggak grogi berat pas mau ambil darah. Kebayang aja kan kalau saya tegang dan pembuluh darah di dalam tubuh mengecil, susah deh ntar jarum nembus kulit saya. Yang ada saya ditusuk dua kali atau lebih. Iiiih... takuuut maaak... >,<

Seperti biasa, durasi waktu buat pengambilan sekantong darah kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Setelah itu, saya dan papa makan di kantin yang disediakan. Menu yang saya dapat adalah mie rebus nggak pake telor, susu, dan multivitamin. Lalu, kami pulang deh setelah makan. Kami disuruh mendonor lagi tanggal 30 Februari mendatang. Sumfah nggak salah lihat tuh buk? Februari tahun ini kan cuma28 hari. Ada-ada aja deh :D
November 28, 2012

Giveaway: Skinfood Cleansing Travel Set

Hello ladies...

I have another giveaway for you comes from Poland's girl here. This time she gives away a Skinfood Travel Set. 


The Skinfood Cleansing Travel Set contains of 20 ml tubes of the following products:
  • Skinfood Black Sugar Deep Cleansing Cream
  • Skinfood Egg White Pore Foam
  • Skinfood Glacier Water Multi Gel
  • Skinfood Green Tea Deo Wash
  • Skinfood Citron Scalp Care Shampoo
    What do you have to do to enter her giveaway?
    It is easy, just be follower of her blog via Google Friend Connector! You can get additional entries by blogging about this giveaway (giveaway-only blogs are excluded) and/or by adding banner to your sidebar and keeping it there till the contest is over:

    This contest ends on 1st December, 2012 and is opened internationally.

    The winner will be picked by Rafflecopter, so please just go directly to her blog to enter here. Good Luck!

    Thank You, Mom

    I watched this video after downloading it from Fivi Alvianto's blog. I cried watching it. Thanks Mom... :))

    November 24, 2012

    Mati

    'Ali `Imran (185). Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
    Malam ini saya jadi langsung kepikiran umur sendiri setelah membaca kabar kematian seorang teman dari teman. Berapa hari/bulan/tahun lagi ya saya masih bisa hidup di dunia ini? Beberapa tahun lagi kah? atau beberapa bulan lagi? Saya tidak akan pernah tau jawabannya. Wallahu'alam. Keingat umur gini pada akhirnya selalu membuat saya jadi keingat bekal amal-amal shaleh alias pahala yang udah saya kumpulkan selama ini. Udah bagus belum ya? Udah layak dan banyakkah buat dibawa ke alam akhirat trus ditimbang di depan Allah, sang hakim paling adil pada persidangan Maha Dahsyat? Astaghfirullahal'adziiim... takut dan ngeri ngebayanginnya.

    Hasil perenungan ini bikin saya sedih karena iman saya makin loyo dan nggak stabil banget kondisinya akhir-akhir ini, terutama selepas masa SMA. Jadi sedih deh! Marah juga! Tapi saya yakin seyakin-yakinnya, berita yang saya dapat hari ini merupakan salah satu cara Allah mengingatkan saya agar kembali kaffah dalam menunaikan ajaran islam Islam, bukannya setengah-setengah. Selain itu Allah pasti mengingatkan umatnya juga agar tidak mudah tergiur dengan kelezatan dan tipu daya dunia karena sejatinya kehidupan yang benar-benar abadi dan pantas diperjuangkan itu adalah kehidupan di akhirat kelak.
    Hamid Al-Qushairy berkata, 
    “Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu.
    Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga.
    Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka.
    Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.”
    Sumber kutipan: Abu Zuhriy
    November 23, 2012

    My Lovely Sister 1.000.000 Pageview Giveaway!

    Halo..halo..

    Udah sekian lama absen, kali ini saya nulis lagi di sini dengan membawa berita giveaway terbaru dari My Lovely Sister, toko maya langganan saya banget nih buat belanja produk kecantikan asal Korea! Duo sister yang juga mengelola blog My Lovely Sister ini memang racunnyaaa banget buat menggoda dompet saya bocor. Hal ini dikarenakan review-review produk-produk skincare atau makeup yang mereka beberkan di blog mereka selalu ditulis dengan baik, gaya bahasanya santai, ringan serta akrab dengan para pembacanya yang kebanyakan juga makeup/skincare lovers, dan juga mereka menyertakan link dimana para pembaca blog bisa mendapatkan skincare/makeup yang direview tersebut. Hal inilah yang bikin iman saya porak poranda dan isi dompet saya meronta-ronta minta segera berganti tuan. :))


    Nah, dalam rangka merayakan pageview di blog mereka yang udah mencapai 1.027.604! (ketika tulisan ini dibikin) maka mereka dengan senang hati mengadakan giveaway berupa voucher belanja di toko maya mereka dengan total hadiah sebesar 1 juta rupiah! Wuiiihhh... Asik banget kaaan? *joget-joget di tumpukan skincare* Voucher ini bisa bebas dipake buat belanja produk apapun di mylovelysister.com! *makin girang bukan main!*

    Voucher ini dibagikan kepada tiga pemenang lho yaaa, dengan ketentuan sebagai berikut:
    • Pemenang pertama berhak mendapatkan voucher senilai 500.000 rupiah,
    • Pemenang kedua berhak mendapatkan voucher senilai 350.000 rupiah,
    • Pemenang ketiga berhak mendapatkan voucher senilai 150.000 ribu rupiah.
    Gimana, Gimanaaa? Pasti tertarik kaaan...
    Ngaku ajaaa... Biar kita samaan! Saya aja udah semangat '45 banget nih mau dapat hadiah yang pertama. :D

    Bagi yang mau ikutan, baca baik-baik nih syarat yang harus dipenuhi agar berpeluang memenangkan giveaway menggiurkan ini:
    1. Retweet tentang giveaway ini dengan mencantumkan @mylovelysister.
    2. Reblog tentang giveaway ini (pastinya di blog kamu).
    Inget juga baca dengan lebih teliti lagi nih mandatory atau kewajiban yang harus ditunaikan buat bisa ikut lebih lanjut di giveaway ini:
    1. Pastiin udah nge-like fanpage mereka di: http://facebook.com/aini.and.eve 
    2. Isi kuesioner di bawah ini:
    • Sebutkan nama/pekerjaan/status (single atau menikah)
    • Dari manakah kamu mengetahui tentang blog my-lovely-sister?
    • Apa yang paling kamu sukai dari blog my-lovely-sister? Kenapa?
    • Makeup apa yang pertama kali kamu gunakan?
    • Makeup apa yang pasti selalu kamu pakai setiap kali keluar rumah?
    • Berapa pengeluaranmu untuk biaya make up setiap bulannya?
    • Merk make up dan skincare apa yang paling kamu suka?
    • Apakah setiap postingan dari blog my-lovely-sister membantu kamu untuk meningkatkan pengetahuan dalam hal perawatan wajah dan makeup?
    Kalau udah ngisi kuesioner di atas, kirim jawaban kamu ke contact.mysister@yahoo.com dengan judul My Lovely Sister 1.000.000 Pageview(spasi)Nama Kamu!

    Giveaway ini berakhir pada tanggal 16 Desember 2012 ya ;))

    Dan jangan lupa buat tinggalin komen kamu di kotak komen blog my-lovely-sister setelah ngirim email yang disyaratkan tersebut. Pengumuman pemenang akan diberitahukan secepatnya ke email kita-kita yang join  giveaway ini dan juga bakal diumumin di blog my-lovely-sister.

    Pssssttt...
    My-lovely-sister berhak memilih pemenang dianggap memilik jawaban yang paling menarik dan menginsipirasi mereka buat ngeblog. Tentu saja jawaban yang kamu berikan terhadap kuesioner yang diajukan akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan isi dari tulisan di blog my-lovely-sister :)). Selain itu, mereka bisa menyesuaikan konten yang mereka tulis dengan demand dari para pembaca setia blog mereka. Informasi yang kita berikan ke sista-sista di giveaway ini dijamin aman dan rahasia lho! *megang janji para sista*

    Akhir kata, gutlak ladies... 
    GUTLAK ME!
    October 06, 2012

    Gaudeamus Igitur!


    Gaudeamus igitur
    luvenes dum sumus.
    Post iucundam iuventutem
    Post molestam senectutem
    Nos habebit humus.

    Vivat academia!
    Vivant professores!
    Vivat membrum quodlibet;
    Vivant membra quaelibet;
    Semper sint in flore.

    Akhirnya hari yang saya tunggu-tunggu datang juga. Saya diwisuda jadi sarjana! Alhamdulillaaah... Saya sudah mulai bisa lepas sedikit demi sedikit dari "suntikan dana" orang tua pada akhirnya. Yah, walaupun sampai sekarang masih belum jelas status kapan magangnya dan kapan penempatannya, setidaknya saya sudah ada jaminan akan segera menghasilkan duit sendiri, jadi nggak nyusahin ortu lagi :))

    Seminggu setelah wisuda, ada teman masa SMA saya yang nanyain, "Kok wisuda nggak ngasih kabar sih, Na? Tau-tau udah ada foto-fotonyanya aja di fb." Duh, saya cuma bisa senyum mesem-mesem aja. Memang, saya nggak menyebarluaskan berita bahagia ini ke teman-teman saya, bahkan yang paling dekat sekalipun. Kenapa? alasannya sederhana dan mungkin terkesan drama banget, "saya takut kecewa". Ya, karena menelan kekecewaan itu pil pahit dan menyakitkan banget buat saya yang perasa dan kadang kelewat sensitif ini. Jadi, daripada saya kecewa karna nggak ada dari teman-teman saya yang bisa datang ntar, yaudah nggak usah ada kabar apapun aja sekalian.

    Mungkin, kelakuan saya jadi begini akibat kejadian-kejadian negatif di masa lalu yang nggak pengen lagi saya rasain. Misalnya setahun yang lalu, saya pernah ngundang teman-teman dekat sesama perantauan ke acara pernikahan sepupu saya di Pondok Gede. Mereka bilang bakal datang ramean pas hari H, saya juga udah ngasih tau jalan ke tempat resepsinya itu gimana, tapi ujung-ujungnya tidak ada satu pun dari mereka yang datang karena berbagai alasan. Saya langsung jadi "metal" alias mellow total deh pas denger kabar itu lewat telfon. Mata saya langsung berkaca-kaca, nahan tangis sedih, kok mereka tiba-tiba batalin gitu aja sih, padahal saya udah excited banget pengen ketemu mereka. Saya sedih sekaligus marah saat itu. Walaupun bukan hajatan saya secara pribadi, tapi saya udah ngundang mereka buat datang dan mereka mengiyakannya, eh tapi malah mereka nggak ada yang datang sama sekali. Saya kecewa.

    Contoh lainnya ada lagi, nggak usah disebut secara semua di sini, nggak enak rasanya. Cuman yang jelas saya pasti bakalan inget banget setiap detail dari kekecewaan-kekecewaan yang pernah saya alami. Saya nggak akan melupakannya karena kekecewaan itu ada sebagai pembelajaran dan pengingat bagi saya untuk tidak ngelakuin hal yang sama ke orang lain. Jadi inget kata-kata yang selalu mama sampaikan ke saya berulang kali:

    Jangan terlalu sering berharap pada orang lain, nanti kamu kecewa berat. Selalu persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Dan, jangan lupa... Ikhlas-lah dalam hidup ini. - Mama.

    Makanya saya merasa bersalah banget kalau semisalnya udah ngebikin janji dengan teman atau orang lain dan ternyata batal atau nggak bisa memenuhi janji tersebut. Mending nggak usah sama sekali bikin janji, hati saya aman dari perasaan bersalah dan sedih, orang lain juga nggak tersakiti.

    Well, back to topic. Alhamdulillah mama dan papa bisa datang, selain itu om (adik laki-laki mama) saya yang punya kamera juga datang. Asiiik, momen bahagianya bisa ditangkap banyak nih! :D Thanks so much buat abang saya yang ikhlas ngambil cuti 5 hari (kalau nggak salah) buat bisa ngajak main dan ngejagain 3 orang adek-adek di rumah, sekaligus jadi 'abang tukang ojek' buat nganter jemput mereka pas hari sekolah. Dari cerita mama nih abang rela ngelakonin itu semua demi saya! biar saya nggak mengalami hal yang sama kayak dia pas wisuda dulu dimana yang bisa hadir hanya papa, pak Uo sama om Ayang. Sementara mama tetap di rumah, nggak ikut karena terkendala dana dan urusan "buntut". Duh, saya jadi terharu deh ngedenger itu semua dari mama. Hats off to you bang! I love you even more! muah, muah! :* Aaah, saya jadi berkaca-kaca begitu tau abang concern banget buat wisudaan saya. Pernah juga pas mama pernah nyeletuk di rumah mengenai budget kebaya beserta printilannya berikut aksesoris buat wisuda saya yang dananya cukup gede *saya udah sadar kalau ternyata budgetnya di luar perkiraan saya*, abang ngasih komentar gini, "nggak papa ma, sekali-sekali juga kok seumur hidup. Kapan lagi? :)" Ya ampuun, abang saya ini perhatian bangeeet, saya makin bangga aja deh jadi adik ceweknya, bisa punya panutan dan abang cowok yang dewasa gitu. :*

    Sebagai penutup untuk tulisan ini, saya sertain tiga foto (dari cukup banyak foto) yang berhasil ditangkap kamera om saya pas upacara sakral dan khidmat ini.


    Pada tulisan/postingan selanjutnya saya akan (usahakan) menulis mengenai outfit dan make up pas hari H wisuda saya, siapa taauuu ada netizen cewek yang nyasar ke blog ini buat nyari info mengenai kebaya atau make up, jadi bisa kebantu. :D
    September 28, 2012

    Alumni

    Rasanya seneng banget banget setelah buka fb dapat kabar kalau angkatan 50 setis statusnya udah jadi "alumni" semua di sipadu.


    Alhamdulillaaahhh... Lebih senang lagi waktu iseng-iseng buka sipadu lagi, pas sedang ngobrol-ngobrol sama Lely di kamar, eh udah ada pengumuman baru lagi berwarna kuning di bagian tengah atas sipadu kayak gini

    Ya Rabbiii, hati ini langsung girang bukan main! Sampe teriak agak kenceng pas bacanya. Makasih ya Allah, Makasih udah denger semua doa-doa hambamu ini. Sekarang perasaan udah legaaa banget, nggak was-was lagi takut tanggal wisuda diundur trus tiket mama papa kesini juga harus diundur karena udah ada kepastian.

    Saya akhirnya jadi sarjana juga mama papa, akhirnya akan turut meringankan perekonomian keluarga \^.^/
    September 19, 2012

    Happy Birthday Hermione!

    I remember starting to love and admire Emma Watson because of the role she played in Harry Potter as Hermione. I don't know for sure which one I adore so much, whether Hermione or Emma. They both are same people, but very nice and cool personalities they have, made me mesmerized.

    Happy Birthday Hermione!
    You rock girl!
    You are the best novel character that I have ever found so far.
    source
    August 29, 2012

    AB Blood Type

    I read some articles online and found fun facts about my personality seen from blood type. These describe me very well:

    AB Blood Type : Talented, Calm, Rational
    People with blood type AB are hard to categorize because they have both A and B characteristics in them. They are both introverted and extroverted, and they are often viewed as having multiple personalities because they shift from one personality to another. While they enjoy hanging with friends, they need time alone to think to themselves. Sometime they think something too deep and overthink thoughts. They seem very unforgiving as they are precise and tough to themselves and those around them. At the same time, people with blood type AB are very sensitive and very cautious. Koreans usually categorize people with AB as either a genius or an idiot. 
    Best traits: cool, controlled, empathetic
    Worst traits: aloof, unforgiving

    Type AB: The Humanist
    Type-AB people are an unpredictable, distant lot, but tend to use their heads over their hearts. They are good with money. Type AB’s are the split personalities of the blood groups. They are considerate of other people’s feelings and deal with them with care and caution. On the other hand, though, they are strict with themselves and those close to them. They, therefore, seem to have two personalities: one for those “outside,” and another for people on the “inside.” They often become sentimental, and they tend to think too deeply about things. AB Types have a lot of friends, but they need time to be alone and think things through, as well. They can be both outgoing and shy, confident and timid. While responsible, too much responsibility will cause a problem. They are trustworthy and like to help others. Type AB personalities can be sensitive, considerate, careful, and efficient. They can also be strict, moody, easily offended, critical, and standoffish.

    July 30, 2012

    Kartu Kehadiran Seminar Skripsi

    Alhamdulillaaah ya Allah... Hari ini kelar juga urusan ngejar-ngejar dosbing buat bimbingan dan minta tanda tangan surat tanda persetujuan seminar. Baru bisa napas agak lega rasanya sekarang setelah bapaknya neken surat persetujuan itu trus pas ngasih ke jurusan daaan dapat kartu kehadiran seminar ini:
    tanpa kartu ini, nggak bisa menghadiri seminar teman lain *aku padamu ooh kartu*
    Akhirnya saya bisa menghadiri dan mengoleksi tanda tangan buat sah ikut seminar skripsi juga. Thanks God, You really saved me!

    Besok udah saya udah mulai bertugas menjadi pembahas makalah skripsi temen pas sesi II. Semoga lancar dan nggak malu-maluin. Semangat lah ya Nana! Pasti segera lulus lalu wisuda 6 Oktober 2012 ini bareng temen-temen angkatan 50 lainnya. Insya Allah, dimudahkan juga jalan kesana oleh Allah koook. Amiiiin... Amiiiin...
    July 28, 2012

    Lovely Giveaways from Lovely Lue

    Hai hai dear ladies... Long time no news from me. I've been busy with the thesis. So yeah, I am kinda lazy and hard to write anything here. Haha, forget it, it doesn't sound interesting to be told to you.

    Well...now, I have come back to bring you such a nice post about Lovely Lue by Lulu Putri Wijaya. What a pity if you do not know her. She is very very very talented young, pretty, aaand beautiful mom to be (she is being a preggy woman right now anyway) heheh. Her blog is full of beautiful and pretty things she made by herself. Yeah, you will find many interesting stories about her life too in her blog. I hardly remember the first time I read her blog, but for sure, I have been such a loyal reader of her blog for about 1 year or more. FYI, after reading her 100's giveaways' post, I could'nt get enough, I was like crazy reading her entire blogpsots form the EPISODE 1! Really! I love her blog and its writer too! LOL!

    I remember telling my self, "IF I DO NOT READ THIS AWESOME BLOG, I WILL REGRET MANY THINGS YOU KNOW, NANA!" Ha! That was the moment I immediately clicked "follow" via Google Friend Connect (GFC).

    Aaand... for celebrating her 200 followers of her blog, she held this giveaway for her blogger follower and nonblogger follower. Ask me what you're gonna get. These!

    for her Blogger Follower. There will be 5 winners for theseee...

    Lovely Lue's Giveaways
    for her Non Blogger Follower. There will be 4 winners for these one.

    isn't that beautiful and precious? *drooling*
    If you wanna join, just go to her blog and tell her "Since when it is exaclty you start reading her blog"in her comment's blog box. You can find complete information there for sure.

    I hope I will be one of the winners Cece Lulu chooses! I hope so. Amin amin... Hihi :))

    Good luck anyway pretty ladies... ;)
    pssst... for more information, just click link below the picture or... HERE :))
    June 09, 2012

    J.K. Rowling Speaks at Harvard Commencement, June 5th, 2008

    President Faust, members of the Harvard Corporation and the Board of Overseers, members of the faculty, proud parents, and, above all, graduates. The first thing I would like to say is ‘thank you.’ Not only has Harvard given me an extraordinary honour, but the weeks of fear and nausea I have endured at the thought of giving this commencement address have made me lose weight. A win-win situation! Now all I have to do is take deep breaths, squint at the red banners and convince myself that I am at the world’s largest Gryffindor reunion. 

    Delivering a commencement address is a great responsibility; or so I thought until I cast my mind back to my own graduation. The commencement speaker that day was the distinguished British philosopher Baroness Mary Warnock. Reflecting on her speech has helped me enormously in writing this one, because it turns out that I can’t remember a single word she said. This liberating discovery enables me to proceed without any fear that I might inadvertently influence you to abandon promising careers in business, the law or politics for the giddy delights of becoming a gay wizard.
    You see? If all you remember in years to come is the ‘gay wizard’ joke, I’ve come out ahead of Baroness Mary Warnock. Achievable goals: the first step to self improvement.
    Actually, I have wracked my mind and heart for what I ought to say to you today. I have asked myself what I wish I had known at my own graduation, and what important lessons I have learned in the 21 years that have expired between that day and this.
    I have come up with two answers. On this wonderful day when we are gathered together to celebrate your academic success, I have decided to talk to you about the benefits of failure. And as you stand on the threshold of what is sometimes called ‘real life’, I want to extol the crucial importance of imagination.
    These may seem quixotic or paradoxical choices, but please bear with me.
    Looking back at the 21-year-old that I was at graduation, is a slightly uncomfortable experience for the 42-year-old that she has become. Half my lifetime ago, I was striking an uneasy balance between the ambition I had for myself, and what those closest to me expected of me.
    I was convinced that the only thing I wanted to do, ever, was to write novels. However, my parents, both of whom came from impoverished backgrounds and neither of whom had been to college, took the view that my overactive imagination was an amusing personal quirk that would never pay a mortgage, or secure a pension. I know that the irony strikes with the force of a cartoon anvil, now.
    So they hoped that I would take a vocational degree; I wanted to study English Literature. A compromise was reached that in retrospect satisfied nobody, and I went up to study Modern Languages. Hardly had my parents’ car rounded the corner at the end of the road than I ditched German and scuttled off down the Classics corridor.
    I cannot remember telling my parents that I was studying Classics; they might well have found out for the first time on graduation day. Of all the subjects on this planet, I think they would have been hard put to name one less useful than Greek mythology when it came to securing the keys to an executive bathroom.
    I would like to make it clear, in parenthesis, that I do not blame my parents for their point of view. There is an expiry date on blaming your parents for steering you in the wrong direction; the moment you are old enough to take the wheel, responsibility lies with you. What is more, I cannot criticise my parents for hoping that I would never experience poverty. They had been poor themselves, and I have since been poor, and I quite agree with them that it is not an ennobling experience. Poverty entails fear, and stress, and sometimes depression; it means a thousand petty humiliations and hardships. Climbing out of poverty by your own efforts, that is indeed something on which to pride yourself, but poverty itself is romanticised only by fools.
    What I feared most for myself at your age was not poverty, but failure.
    At your age, in spite of a distinct lack of motivation at university, where I had spent far too long in the coffee bar writing stories, and far too little time at lectures, I had a knack for passing examinations, and that, for years, had been the measure of success in my life and that of my peers.
    I am not dull enough to suppose that because you are young, gifted and well-educated, you have never known hardship or heartbreak. Talent and intelligence never yet inoculated anyone against the caprice of the Fates, and I do not for a moment suppose that everyone here has enjoyed an existence of unruffled privilege and contentment.
    However, the fact that you are graduating from Harvard suggests that you are not very well-acquainted with failure. You might be driven by a fear of failure quite as much as a desire for success. Indeed, your conception of failure might not be too far from the average person’s idea of success, so high have you already flown.
    Ultimately, we all have to decide for ourselves what constitutes failure, but the world is quite eager to give you a set of criteria if you let it. So I think it fair to say that by any conventional measure, a mere seven years after my graduation day, I had failed on an epic scale. An exceptionally short-lived marriage had imploded, and I was jobless, a lone parent, and as poor as it is possible to be in modern Britain, without being homeless. The fears that my parents had had for me, and that I had had for myself, had both come to pass, and by every usual standard, I was the biggest failure I knew.
    Now, I am not going to stand here and tell you that failure is fun. That period of my life was a dark one, and I had no idea that there was going to be what the press has since represented as a kind of fairy tale resolution. I had no idea then how far the tunnel extended, and for a long time, any light at the end of it was a hope rather than a reality.
    So why do I talk about the benefits of failure? Simply because failure meant a stripping away of the inessential. I stopped pretending to myself that I was anything other than what I was, and began to direct all my energy into finishing the only work that mattered to me. Had I really succeeded at anything else, I might never have found the determination to succeed in the one arena I believed I truly belonged. I was set free, because my greatest fear had been realised, and I was still alive, and I still had a daughter whom I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.
    You might never fail on the scale I did, but some failure in life is inevitable. It is impossible to live without failing at something, unless you live so cautiously that you might as well not have lived at all – in which case, you fail by default.
    Failure gave me an inner security that I had never attained by passing examinations. Failure taught me things about myself that I could have learned no other way. I discovered that I had a strong will, and more discipline than I had suspected; I also found out that I had friends whose value was truly above the price of rubies.
    The knowledge that you have emerged wiser and stronger from setbacks means that you are, ever after, secure in your ability to survive. You will never truly know yourself, or the strength of your relationships, until both have been tested by adversity. Such knowledge is a true gift, for all that it is painfully won, and it has been worth more than any qualification I ever earned.
    So given a Time Turner, I would tell my 21-year-old self that personal happiness lies in knowing that life is not a check-list of acquisition or achievement. Your qualifications, your CV, are not your life, though you will meet many people of my age and older who confuse the two. Life is difficult, and complicated, and beyond anyone’s total control, and the humility to know that will enable you to survive its vicissitudes.
    Now you might think that I chose my second theme, the importance of imagination, because of the part it played in rebuilding my life, but that is not wholly so. Though I personally will defend the value of bedtime stories to my last gasp, I have learned to value imagination in a much broader sense. Imagination is not only the uniquely human capacity to envision that which is not, and therefore the fount of all invention and innovation. In its arguably most transformative and revelatory capacity, it is the power that enables us to empathise with humans whose experiences we have never shared.
    One of the greatest formative experiences of my life preceded Harry Potter, though it informed much of what I subsequently wrote in those books. This revelation came in the form of one of my earliest day jobs. Though I was sloping off to write stories during my lunch hours, I paid the rent in my early 20s by working at the African research department at Amnesty International’s headquarters in London.
    There in my little office I read hastily scribbled letters smuggled out of totalitarian regimes by men and women who were risking imprisonment to inform the outside world of what was happening to them. I saw photographs of those who had disappeared without trace, sent to Amnesty by their desperate families and friends. I read the testimony of torture victims and saw pictures of their injuries. I opened handwritten, eye-witness accounts of summary trials and executions, of kidnappings and rapes.
    Many of my co-workers were ex-political prisoners, people who had been displaced from their homes, or fled into exile, because they had the temerity to speak against their governments. Visitors to our offices included those who had come to give information, or to try and find out what had happened to those they had left behind.
    I shall never forget the African torture victim, a young man no older than I was at the time, who had become mentally ill after all he had endured in his homeland. He trembled uncontrollably as he spoke into a video camera about the brutality inflicted upon him. He was a foot taller than I was, and seemed as fragile as a child. I was given the job of escorting him back to the Underground Station afterwards, and this man whose life had been shattered by cruelty took my hand with exquisite courtesy, and wished me future happiness.
    And as long as I live I shall remember walking along an empty corridor and suddenly hearing, from behind a closed door, a scream of pain and horror such as I have never heard since. The door opened, and the researcher poked out her head and told me to run and make a hot drink for the young man sitting with her. She had just had to give him the news that in retaliation for his own outspokenness against his country’s regime, his mother had been seized and executed.
    Every day of my working week in my early 20s I was reminded how incredibly fortunate I was, to live in a country with a democratically elected government, where legal representation and a public trial were the rights of everyone.
    Every day, I saw more evidence about the evils humankind will inflict on their fellow humans, to gain or maintain power. I began to have nightmares, literal nightmares, about some of the things I saw, heard, and read.
    And yet I also learned more about human goodness at Amnesty International than I had ever known before.
    Amnesty mobilises thousands of people who have never been tortured or imprisoned for their beliefs to act on behalf of those who have. The power of human empathy, leading to collective action, saves lives, and frees prisoners. Ordinary people, whose personal well-being and security are assured, join together in huge numbers to save people they do not know, and will never meet. My small participation in that process was one of the most humbling and inspiring experiences of my life.
    Unlike any other creature on this planet, humans can learn and understand, without having experienced. They can think themselves into other people’s places.
    Of course, this is a power, like my brand of fictional magic, that is morally neutral. One might use such an ability to manipulate, or control, just as much as to understand or sympathise.
    And many prefer not to exercise their imaginations at all. They choose to remain comfortably within the bounds of their own experience, never troubling to wonder how it would feel to have been born other than they are. They can refuse to hear screams or to peer inside cages; they can close their minds and hearts to any suffering that does not touch them personally; they can refuse to know.
    I might be tempted to envy people who can live that way, except that I do not think they have any fewer nightmares than I do. Choosing to live in narrow spaces leads to a form of mental agoraphobia, and that brings its own terrors. I think the wilfully unimaginative see more monsters. They are often more afraid.
    What is more, those who choose not to empathise enable real monsters. For without ever committing an act of outright evil ourselves, we collude with it, through our own apathy.
    One of the many things I learned at the end of that Classics corridor down which I ventured at the age of 18, in search of something I could not then define, was this, written by the Greek author Plutarch: What we achieve inwardly will change outer reality.
    That is an astonishing statement and yet proven a thousand times every day of our lives. It expresses, in part, our inescapable connection with the outside world, the fact that we touch other people’s lives simply by existing.
    But how much more are you, Harvard graduates of 2008, likely to touch other people’s lives? Your intelligence, your capacity for hard work, the education you have earned and received, give you unique status, and unique responsibilities. Even your nationality sets you apart. The great majority of you belong to the world’s only remaining superpower. The way you vote, the way you live, the way you protest, the pressure you bring to bear on your government, has an impact way beyond your borders. That is your privilege, and your burden.
    If you choose to use your status and influence to raise your voice on behalf of those who have no voice; if you choose to identify not only with the powerful, but with the powerless; if you retain the ability to imagine yourself into the lives of those who do not have your advantages, then it will not only be your proud families who celebrate your existence, but thousands and millions of people whose reality you have helped change. We do not need magic to change the world, we carry all the power we need inside ourselves already: we have the power to imagine better.
    I am nearly finished. I have one last hope for you, which is something that I already had at 21. The friends with whom I sat on graduation day have been my friends for life. They are my children’s godparents, the people to whom I’ve been able to turn in times of trouble, people who have been kind enough not to sue me when I took their names for Death Eaters. At our graduation we were bound by enormous affection, by our shared experience of a time that could never come again, and, of course, by the knowledge that we held certain photographic evidence that would be exceptionally valuable if any of us ran for Prime Minister.
    So today, I wish you nothing better than similar friendships. And tomorrow, I hope that even if you remember not a single word of mine, you remember those of Seneca, another of those old Romans I met when I fled down the Classics corridor, in retreat from career ladders, in search of ancient wisdom: As is a tale, so is life: not how long it is, but how good it is, is what matters.
    I wish you all very good lives. Thank you very much.
    Source: MuggleNet
    May 11, 2012

    Countdown

    I held my breath took a look at this in my blog. I need to be more aware and do my best for this thesis. I am dying just thinking and writing it. It really takes a lot of my attention & my emotion. Huh... Indeed... I have to struggle & work really really hard for this for my sake.

    O my dear God, please be with me and help me make it this year. Pleaseee... I want to graduate soon and make my parents happy. I want to have my own money too to buy what I want. Amin.

    May 06, 2012

    Sqiansoto Effective Skincare Mud Musk [review]

    Sebagai kaum hawa, saya termasuk yang jarang ke salon buat perawatan wajah (seperti facial, peeling, dan lain-lainnya). Males, lagi kere, ngga ada temen adalah sedikit alasan saya malas menyambangi salon-salon yang banyak bertebaran di ibukota ini. Padahal nih wajah udah pengen minta "digali" karena banyak komedo yang numpuk disana-sini. Beruntungnya, pas saya lagi blogwalking ke blog para beauty blogger, saya nyasar ke blognya Christabella Nathania yang mereview masker wajah bernama Sqiansoto Mud Mask. 

    Yak, saya harus cobain nih! *tuntutan wajah!* Saya langsung pesen 2 ke Bella via email begitu selesai baca review masker lumpur ini di blognya.

    3 pcs of Sqiansoto Mud Mask. Harga per sachet @ 15.000 rupiah. 
    Namun, karena minimal transfer ke Bank Mandiri itu harus 50 ribu, baiklah saya akhirnya dapat 3 masker Sqiansoto dari Bella. Asiiik~~! :3

    tampak depan dan belakang
    Masker ini saya rasa sangat "ramah" di kantong karena satu sachet masker bisa buat 3 kali pakai. Jadi, bisa disesuaikan deh pemakaiannya untuk masing-masing orang. Kalau saya, kayanya bakalan make nih masker 1 kali dalam 2 minggu. Soalnya wajah saya cenderung berminyak dan cepat banget komedoan, apalagi di area hidung :((

    Cara pakenya cukup mudah. Cuman, ya saya agak kerepotan mengaplikasikan masker ini ke wajah karena lengket banget (dan saya nyobek sachetnya terlalu lebar ;p).

    Langkah-langkah maskeran dengan Sqiansoto:
    1. Tahan rambut kamu dengan bando atau sejenisnya sebelum maskeran biar rambutnya ga ikutan maskeran ;p.
    2. Cuci wajah sampai bersih dengan sabun pembersih wajah favoritmu dan keringkan dengan handuk lembut. Cukup dipuk-puk pelan aja.
    3. Ada baiknya kamu uapin dulu wajah kamu setelah cuci muka agar pori-pori wajah terbuka sehingga komedo bisa terangkat sempurna oleh masker ini.
    4. Lalu, buka sachet masker Sqiansoto di ujung pinggirnya, nggak usah lebar-lebar.
    5. Tuangkan masker secukupnya untuk wajah ke piring kecil atau wadah lainnya. Tujuannya tak lain adalah untuk memudahkan dalam pengaplikasian masker ke wajah.
    6. Ambil masker yang sudah dipindahkan ke piring kecil lalu oleskan merata ke seluruh wajah, hindari mata dan bibir. Jangan kena alis dan rambut yang tumbuh di pinggiran wajah juga ya. Soalnya bakalan ketarik pas masker dilepas dan bakalan bikin agak perih.
    7. Tunggu deh sekitar 10 menit sampai 30 puluh menit dengan tenang. Jangan sambil jogging! apalagi sambil nge-dance! XD
    8. Setelah masker mengering sempurna (wajah terasa sangat kencang dan ketarik), lepas masker secara perlahan-lahan dan lembut dari wajah. (Jangan lakukan dengan kasar, narik pelan-pelan aja udah bikin meringis lho karena eratnya cengkraman nih masker ke wajah).
    9. Bersihkan sisa-sisa masker yang tidak ketinggalan di wajah dengan handuk yang dibasahi air dingin.
    10. Ambil es batu kecil (buat minuman, tau kan yaaa :))) di freezer kemudian balurkan ke kulit wajah yang udah dimaskerin tadi. Gunanya biar pori-pori wajah yang membuka pas dimasker jadi mengecil lagi.
    11. Voila! Selesai deh!
    Rasanya seger dan fresh abis pake masker ini. Wajah saya juga terasa lembut dan kenyal, empuk gitu. Jadi suka banget megang wajah jadinya. Memang sih, setelah saya telusuri semua wajah pake jari, nggak semua komedo terangkat sempurnya dengan masker ini. Tapi, komedo di hidung dan wajah jadi berkurang signifkan sebelum dan sesudah make masker ini.

    Yang saya suka dari Sqiansoto
    1. Wanginya enak, wangi strawberry yang lembut dan menenangkan.
    2. Abis pake, wajah jadi empuk, kenyal dan lembut. Jadi suka megang-megang wajah :))
    Yang saya kurang suka dari Sqiansoto
    >> Susah ngaplikasiinnya ke wajah, soalnya lengket banget dan kental. Jadi, saya harus berjuang meratakan masker ini ke wajah dengan hampir kesepuluh jari berlumuran gel lumpur ;p

    Saya pasti beli lagi masker ini sama Bella! Soalnya cocok di kulit saya yang berminyak ini. Nih wajah jadi enak banget abis pake masker ini. Dia ketagihan! Tunggu pesanan saya selanjutnya ya Bel :* *aih, sok kenal sok akrab nih gueh*
    May 05, 2012

    Film-Film Baru

    Kabar segar datang! IMAX is in town now! Okeee, saya senang! sekaligus penasaran dengan pengalaman menonton film-film favorit di teater IMAX. Insya Allah, habis ujian selasa, saya mau nonton The Avengers di IMAX Gandaria City bareng temen. Kalau ada waktu, saya akan coba review film yang lagi happening ini. Selain The Avengers sendiri, masih ada deretan film-film yang sangat menggoda untuk ditonton in the next month. Ini dia list film-film yang saya nantikan!

    all images from: www.filmoo.com
     I am excited! :D
    May 02, 2012

    Taylor by Wondershoe


    Berhubung ada sista yang nanya di twitter perihal si item Taylor ini, maka ada baiknya saya beberkan pengalaman saya setelah ngajak jalan sepatu ini muter-muterin Gancit pada suatu hari. Semoga bermanfaat bagi para calon pembelinya.

    Yang saya suka dari sepatu ini:
    Saya selalu suka dengan sepatu warna item, karna menurut saya sepatu warna item itu klasik dan bisa matching dengan berbagai macam warna baju. Yah dengan tambahan ada stud-nya, saya makin suka ama si Taylor ini pas liat-liat katalog di web-nya karna ia terkesan feminin sekaligus kuat dan berani. Maka langsung masuk keranjang!

    Yang saya nggak suka dari sepatu ini:
    Nah ini dia, saya lebih banyak nemu pengalaman jelek dengan Taylor ini. Pertama, sepatu ini mudah banget kotor dan jadi kumal karena bahan suede-nya itu lhooo karna kalo kena debu apalagi hujan dan becek langsung nyangsang nempel di kulit sepatunya. Euuhhh... benci banget rasanya ngeliat sepatu yang udah kinclong klimis rapi eeeh pas kena hujan trus kecemplung becek jadi berbekas dan susah ngilanginnya. Nilai minus banget deh.

    Selain karna mudah kotor bin kumal tadi, sepatu ini juga menyiksa kaki saya, sedih banget rasanya punya sepatu tapi bikin kaki merintih pas diajak jalan T.T. Saya mikirnya aaah sepatu baru juga, ntar lama-lama juga melar dan enak di kaki tapi ternyata nggak juga! Kemudian saya berpikir ini mungkin jadi sakit karena kaki saya lebar makanya jadi sakit gini makenya. Dan tampaknya hal itu benar. 

    Sepatu ini emang nggak langsung diajak "kencan" pas udah nyampe kosan, cuman dicobain bentar buat dokumentasi trus dimasukin kotak lagi (hasil foto-fotonya yang gambar di atas). Pas di kaki enak dan nyaman, kece lagi pas nempel. Tapiii, penderitaan segera dimulai begitu si item ini bener-bener dipake jalan pas abis turun dari transjakarta dan jalan kaki menuju Gancit. Gilak maaak... kaki saya mulai berasa nyut-nyutan dan periiih... >.< Akibatnya saya keliling Gancit sambil nahan perih dan meringis-ringis. Besoknya kaki saya lecet kemerah-merahan di jari-jari manis dan kelingkingnya, punggung kaki bagian belakang juga nggak ketinggalan lecet dan merah-merah bengkak. Saya langsung komplain baik-baik ke CS Wondershoe lewat twitter. Di respon dengan sangat baik oleh mereka. Setelah beberapa hari ketahuan kayaknya jari-jari saya lecet diakibatkan stud yang dijahitkan ke sepatunya itu. Maka hari itu, resmilah saya trauma dengan sepatu ber-stud.

    Tips Membeli Sepatu Online A la NaNa
    Berkaca dari pengalaman buruk yang menimpa kaki saya akibat sepatu maka saya kasih beberapa tips buat kamu-kamu yang pengen beli sepatu online, khususnya di Wondershoe
    1. Pastiin nomor kamu sepatu terlebih dulu, ini wajib hukumnya! Ikuti dengan teliti panduan menentukan nomor kaki kamu yang biasanya disediain oleh toko sepatu maya di web-nya, biar ntar sepatunya nggak kekecilan atau kebesaran. Atau kalau kamu masih belum yakin, mendingan jangan beli online, datengin dulu toko fisiknya buat mastiin ukuran kakimu yang sebenarnya
    2. Kalau kamu punya kaki lebar kayak saya, mendingan pilih model sepatu yang ujung depannya agak nutupin kelebaran kaki itu biar kaki keliatan cantik pas dibungkus sama si sepatu, bukannya keliatan nyesek karna kekecilan dan kesempitan
    3. Jangan pernah ragu untuk bertanya atau menyampaikan keluhan pada CS toko maya kalau ternyata sepatu kamu bikin harimu jadi buruk (seperti yang saya alami). Percayalah, jika disampaikan dengan baik dan sopan, kamu akan mendapat respon secepatnya atas keluhan yang dilayangkan. Mereka juga nggak mau dong kalau customer-nya balik punggung melengos pergi karna kecewa dicuekin. Rugi dong...
    4. Penting! Teliti lagi nomor ukuran sepatu, nama penerima, alamat pengiriman, nomor telfon yang bisa dihubungi dan jumlah yang harus dibayarkan untuk barang yang dipesan sebelum check out yaaa.
    Kayaknya itu dulu deh, nanti kalau masih ada yang kurang akan saya tambahkan. Bagi yang mau bertanya-tanya juga boleh kok, silakan hubungi saya via email atau twitter, pasti akan segera saya respon kalau saya sedang konek dengan internet. :))