Awal mula dari rangkaian kontrol ke dokter jantung ini adalah Senin, 13 April 2026, saya mengalami keluhan seperti gambar.
Senin, 13 April 2026
Saya merasa sesak nafas, dada kiri nyeri, dan yang bikin kaget itu saturasi oksigen saya selama 2 tahun berturut-turut ini sering drop di malam hingga dini hari (rata-rata). Ketauannya karena pakai band Huawei Band 8. Saya selama ini rutin ngecek kelainan irama jantung dari notifikasi di jam pintar itu, tapi ga ngecek rekaman data saturasi oksigen. Pantesan juga saya sering capek pagi hari dan badan kurang bugar.
Atas keluhan itu, saya datang ke fasilitas kesehatan (faskes 1) saya di Klinik Dokter Dian Suryani Balai Baru. Ketemu dengan dokter Omi. Saya jelaskan keluhan yang saya rasakan dan saya juga jelaskan sensasinya. Saya jelaskan juga, saya ngecek oksimeter pakai alat medis yang saya beli saat Covid19 mewabah, Beaurer Oksimeter, jadi bukan hanya data dari jam tangan pintar. Dokter Omi kaget, kata dokter, seharusnya saya langsung ke IGD begitu merasakan sesak dan saturasi oksigen turun ke angka 77 persen. Menurut dokter, saturasi oksigen (SpO2) yang turun hingga 77% adalah kondisi darurat medis serius yang menandakan hipoksemia berat (kurangnya oksigen dalam darah). Normalnya, kadar oksigen berada di rentang 95–100%. Saya mikir juga, tengah malam kebangun, jam 2 malam, sementara di rumah hanya bertiga sama suami dan anak, orang tua sedang ke luar kota. Suami gabisa bawa mobil, gimana nanti kalau kami dibegal di jalan?, huhu.
Jadi, saya yang gatau kalau itu berbahaya, hanya kembali menarik nafas dalam-dalam dan kembali tidur, berharap sesak nafas tidak kembali dan saturasi oksigen kembali normal. Baru sore itulah, lepas pulang kantor, saya bisa ke klinik buat periksa. Dokter Omi segera merujuk saya ke dokter Jantung. Saya pilih di Hermina saja karena dekat dengan kantor. Saya pun sebelumnya sudah punya rekam medis di rumah sakit ini di bulan Desember 2025 pernah konsul juga ke dokter Hauda El-Rasyid. Tapi, karena terkendala biaya USG jantung yang cukup mahal buat saya dan suami (1,5 juta), saya urungkan niat konsultasi lebih lanjut.
Selasa, 12 Mei 2026
Hari ini, saya kontrol kembali ke dokter Jantung baik hati bin sabar, dr. Harben Fernando, Sp.Jp., FIHA. Ini kontrol kedua kali. Kontrol pertama tanggal 30 April 2026. Hari ini agendanya pasang Holter 24 jam. Kemarin, Senin, saya sudah buat janji dengan petugas administrasi karena alatnya ternyata terbatas (5 unit saja dan harganya mahal ya). Saya sudah cari tau dulu sebelumnya mengenai Holter ini, jadi saya tau saya tidak akan mandi selama 24 jam ke depan supaya alat Holter tidak rusak. Jadi, pas konsul sama dokter Harben, saya tanya bisa ditunda besok pagi atau tidak supaya saya bisa mandi dulu. Minimal pas pasang badan ga bau keringat ya. Kata dokter Harben bisa. Alhamdulillah, saya lega.
Jam 8.02 WIB saya sudah sampai di RSUP M. Djamil. Tapi, saya tidak langsung ke poli Jantung 17 di lantai 2, melainkan ke Labor Sentral dulu yang ada di lantai 2 gedung belakang. Konsul kemarin dengan dokter Harben, saya juga disuruh buat cek darah, kolesterol puasa, dan lainnya, saya tidak tanya lebih lanjut apa saja. Saya iyakan saja supaya pemeriksaan menyeluruh dan keluhan saya ini dapat ketauan sebabnya apa dan segera diobati.
Sebelum dipasang Holter, saya dikasih penjelasan oleh petugas. Ada jaminan sebesar Rp500.000 yang ditahan oleh pihak RSUP khususnya poli Jantung dan Pembuluh darah atas alat Holter yang dipinjamkan ke pasien. Info dari perawat, pernah ada pasien yang menggunting kabel Holternya, gatau alasannya apa. Pasien tersebut harus mengganti Rp2 juta untuk kabelnya aja. Ya, kabelnya aja. Kalau alatnya sendiri, puluhan juta. Kecil-kecil cabe rawit, yah alat medis satu ini! Setelah tanda tangan surat pernyataan dan menyerahkan uang Rp500.000 ke petugas, saya masuk ke ruang Holter. Di dalam ruangan, saya dibantu petugas pemasang Holter di ruangan khusus Holter. Karena sudah baca mengenai Holter ini di internet, nyari tau pengalaman pasien lain, saya pun sudah persiapkan beberapa hal. Pertama, pakai baju kancing depan supaya nanti mudah buka pasang pakaian setelah alat dipasang. Kebetulan juga ya hari Selasa, seragam di kantor warna putih hitam sesuai dengan kebutuhan saya. Kedua, mandi dan pakai deodoran lalu aktivitas yang nggak memancing keringat berlebih. Ketiga, pakai parfum langgananku yang katanya wanginya bakalan beda-beda sesuai keringat kita! Love banget sama parfumku ini, entah udah botol ke-berapa (brbbb liat shopee, ternyata udah pembelian ke-14! secinta ituuuh!)
Petugas menyuruh saya duduk lalu izin angkat dalaman (beha). Pertama, petugas membantu memakaikan sabuk di pinggang untuk menyimpan alat Holter. Pertama, rasanya agak terlalu kuat, lalu saya minta dikurangi sedikit karena engap. Lalu, setelah dirasa pas, lanjut pemasangan elektroda. A da 9 titik elektroda yang dipasang di dada. 4 di dada dekat PD, 4 titik di bahah PD, dan satu titik di dekat perut bagian kanan. Semua elektroda tadi direkatkan kembali dengan selotip medis ya, saya gatau namanya, yang pasti nempel kuat banget supaya ga geser dan copot. Lalu, udah deh, pasang baju lagi.
Komentar
Posting Komentar
What do you think?
Tell me your thoughts...