Copyright © The Journal
Design by Dzignine
modified by @nakhaira
April 03, 2011

Beras Merah

Beras merah inilah yang membuat saya agak linglung mutar-mutar nyariin 'dia' di pasar kebon sayur kemarin. Sulit juga menemukan penjual beras jenis ini. Ceritanya nih, saya sudah bertekad dan memantapkan hati untuk mengganti nasi putih dengan nasi merah guna menjaga berat badan saya biar nggak tembus di angka yang fantastis gitu. Tentu dengan perlahan-lahan menggantinya karena cukup sulit untuk tiba-tiba tidak makan nasi putih. Bersama dengan Dini dan Pipi, kita berencana menjalankan gaya hidup sehat ala anak kos dengan menekan biaya (tidak terlalu banyak sih) tapi tetap sehat. Semoga aja deh program ini tidak berhenti ditengah jalan. Cemungudh! *dilempar beras*

Target/Sasaran!

Ini udah malem banget sebenernya menurut jam tubuh saya karena si mata udah sulit buat diajak kompromi supaya tetap "on". Padahal udah ngantuk banget dan badan udah protes minta istirahat. Namun, saya paksain diri ini untuk nulis apa yang udah didapat di minggu awal perkuliahan semester 6 ini dari mata kuliah Administrasi Kantor (biasa disingkat dengan admintor). Meksipun menurut saya telat nih ya ngeblog-nya, nulisnya, nggak papa lah, saya udah bertekad untuk mencatat semua hal yang berkelebat di benak agar bisa disatukan menjadi kumpulan kisah-kisah dan potret kehidupan selama menjadi mahasiswi di perguruan tinggi kedinasan ini.

Di kelas siang tadi, saya cukup bersemangat setelah menerima tambahan energi, motivasi, dan banyak masukan pada kuliah umum di auditorium kampus dari seorang guru besar di FEUI, penasihat menteri negara PPN/BAPPENAS: Sri-Edi Suwarsono yang akrab dipanggil pak Edi. Orangnya lugas, kritis, dan tentunya smart. Beliau sudah bertandang ke berbagai negara dan bertemu orang-orang hebat. Saya berdecak kagum karena prestasi beliau yang berderet tersebut.

Beliau menyampaikan kuliah umum dengan judul: “Kelengahan Kultural dalam Pemikiran Ekonomi” dengan mengangkat tema: “Menjadi Statistisi Berwawasan Nasionalisme”. Secara keseluruhan inti dari dua jam pembicaraaan yang disampaikan dengan penuh humor, santai, tapi tetap tidak kehilangan isinya hari ini adalah berkaitan dengan nasionalisme dan kerjasama antarwarga negara Indonesia dalam upaya memberantas kemiskinan dan menjadikan Indonesia tuan di negaranya sendiri, bukan babu di tanah sendiri seperti yang terjadi saat ini. Dimana rasa nasionalisme inilah yang harus di pupuk oleh bangsa Indonesia agar tetap bisa bertahan dan berdiri kokoh sebagai sebuah negara yang kuat dan maju ke depannya.

Selama mengikuti kuliah umum di kampus, baru kali ini saya fokus dan memperhatikan penuh apa yang disampaikan oleh pembicara. Saya pun sempat mencatat di ponsel apa-apa yang beliau sampaikan pada bagian yang menurut saya penting dan menarik. Kuliah umum yang pernah diadakan sebelum ini tidak berhasil menarik perhatian saya sebanyak kuliah umum kali ini.

Oh ya, saya sebenarnya juga pengen nulis tentang materi kuliah admintor. Kuliah ini baru menggugah kesadaran saya pada detik-detik terakhir karena awalnya saya “terlena” oleh butir-butir bahan kuliah yang cukup banyak yang didiktekan pak dosen :p. Masalahnya, saya harus nyatet semua materinya dengan tulisan tangan bukan difotocopy! Namun, untungnya ada beberapa poin yang membuat saya tetap fokus pada materi kuliah yang satu ini.

Mengapa sasaran itu penting? 
  1. Riset menunjukkan bahwa menetapkan sasaran atau target akan membantu individu mencapai aspirasinya. Orang-orang yang berprestasi tinggi cenderung memiliki dan menetapkan sasaran-sasaran yang menantang. Mereka selalu bergerak dengan perubahan (changes) walaupun sedikit. 
  2. Kita pun akan memperoleh manfaat dari memiliki sasaran atau target 
  3. Membantu kita memfokuskan energi dan usaha 
  4. Mendorong, menantang, dan memotivasi diri kita sendiri 
  5. Mensejajarakan dan mengalokasikan daya yang meliputi sumber daya manusia, teknologi, dan sebagainya serta 
  6. Mengukur tingkat keberhasilan kita sendiri, sudah sejauh mana kita mencapai apa yang kita inginkan.
Adapun kriteria-kriteria dalam penulisan sasaran atau target kita harus:
Spesifik: target dinyatakan dalam bentuk yang spesifik dalam hal kuantiti, kualiti, waktu dan tenaga.
Measurable: target harus dapat diukur untuk melihat dengan jelas apakah target tersebut sudah dicapai atau tidak.
Agreed: target harus disepakati bersama dan sesuai dengan sasaran departemen (dalam hal ini saya berpendapat secara pribadi individu, yaitu bersepakat dengan diri saya sendiri dan kemudian dengan orang tua saya mengenai target yang saya punya)
Realistic: target harus realisitis untuk dicapai, tetapi juga cukup menantang
Timebound: batas waktu pencapaian target harus ditetapkan dengan jelas (ini penting banget)
Continuous Improvement: target yang ditetapkan saat ini merupakan peningkatan dibandingkan sebelumnya.

Kenapa saya justru tertarik dengan poin-poin di atas dari keseluruhan materi yang disampaikan di kelas? Mungkin karena sebelum masuk kelas saya sempat mampir ke blog seorang teman via ponsel yang sukses menginspirasi sekaligus mengintimidasi saya dengan segudang prestasinya. Saya merasa perlu mencatat apa-apa yang bisa meningkatkan kualitas diri saya setiap hari agar tak ketinggalan dengan teman-teman lain yang sudah berkontribusi dengan cara mereka masing-masing, berbeda-beda dan pastinya untuk negara ini. It is my time to rock! :D