Copyright © The Journal
Design by Dzignine
modified by @nakhaira
March 29, 2013

Chance

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”
- H. Jackson Brown Jr. 
March 26, 2013

Crochet

Been in love with crochet patterns I found in pinterest. These are some that I wanna try to make at home. Fortunately and thanks God, mom had ever taught me once how to make crochet. I hope, I will do well... :))

You can also follow madly crochet boards in pinterest here like I did. You will be full of beautiful and helpful tutorial you will find there. That is such a heaven! Hahah

March 24, 2013

Talented Woman

She is Stephanie Valentin. She describes herself as: a french artist, violinist, singer, composer, painter, and sculptor. She often puts new artwork and free downloads on her website like:
- How to draw videos
- Free brushes for Adobe Photoshop (CS2, CS3, CS4), and Gimp
- Painting tutorials (french and english text and pictures)
- Free celebrity wallpaper
- Digital art gallery and print
- Free songs to download (.mp3), lyrics, and sheet music
- Oil painting (musicians, artistic nude, animal...)
- Photo retouching tutorials and pics
- 2D and 3D animation
- Sculpture

I forget how I could know her, but for sure while browsing through youtube, I stumbled upon her channel. Then, the rest is... I felt in love with her work and her talent! Look at the video below to prove what I've written is right or wrong. If I happen to see the result of the image shown from this video somewhere else (not from youtube or blogs), I would probably think that is a photograph of an artist, not a digital painting.

Above all comments I made for her, she is very talented and amazing woman!


Subscribe to her channel? :)) 
March 14, 2013

Saya lagi butuh dan pengen...

Samsung Galaxy Camera White Edition.

Yang penting atas nama kamera sih, yang bisa menangkap image dengan kualitas bagus, dan tentunya dibanderol dengan harga yang bersahabat sama isi dompet :)). Semoga bisa cepat punya... *bung nabung* :D
March 13, 2013

Perkara Wajah

Sedihnyaaa liat wajah sendiri di cermin sekarang :((. Tiap ngaca, selalu nampak jerawat-jerawat menghiasai wajah bertipe berminyak ini. Ada jerawat kecil-kecil dan juga yang besar-besar merah, bikin sakit linu-linu kalau dipegang. Pipi kiri dan kanan juga nggak absen dijajah jerawat beberapa bulan ini. Nah, beberapa hari ini bagian rahang kiri dan kanan juga ikut-ikutan dihuni berame-rame oleh jerawat. Maaak, saya mulai stres melihat kondisi wajah yang mengenaskan akibat invasi jerawat ini, apalagi kalau melihat peninggalan dari jerewi yang dulu-dulu, yaitu kulit muka yang bopeng bolong-bolong kayak bulan, nggak mulus kayak pas baby :((. Ah, jadi merasa berdosa ke mama karna nggak menjaga badan dan wajah dengan baik dan benar seperti mama dulu yang hati-hati dan telaten banget mengurus badan dan wajah saya waktu bayi >,<.

Lain cerita, saya paling bete dan kesel banget pas ritual membersihkan wajah a.k.a cuci muka. Beuh! kalau sembarangan dan nggak hati-hati meratakan busa sabun ke wajah, si jerawat yang bersemi bakalan berisiko tinggi buat kesenggol dan abis itu nyut-nyutan sakit karna meradang. Hiks! T,T. Bagian dahi saya aman sih dari jerawat gede-gede, kadang-kadang aja sih jerawat gede suka numbuh satu-satu, tapi begitu udah matang langsung saya pencetin tuh biar keluar isinya, haha. Jadi, si jerawat nggak bertahan lama-lama di jidat ^.^.

Duuuh, jadi mikir, cewek mana sih zaman sekarang yang nggak hebring buat memoles dan mendandani wajahnya biar kelihatan cantik, manis, dan mempesona? Eits, eits, kalau nggak mau ngomongin cewek ber-make up tebal, gini deh, yang dasarnya dulu ber-make up, yaitu kulit wajah itu sendiri. Cewek manaaa yang nggak mau wajahnya stay clean, young, bright, healthy, and glowy? Tell me! Sebut deh semua artis dalam dan luar negeri yang rela merogoh kocek dalam bahkan terlalu dalam buat merawat wajah mereka yang berharga. Mereka sadar bahwa wajah merupakan salah satu aset dari tubuh yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya demi menjagai kepercayaan diri dan menunjang pekerjaan mereka.

Well, untung di umur yang mulai meninggalkan 21 ini, saya sudah sadar dan sudah termasuk golongan mereka yang care dengan perkara merawat dan mengurus wajah. Haha, udah masuk usia mencari jodoh dan serius dengan masa depan sih ciiin, makanya nggak boleh plin plan lagi dan musti kudu serius ngerencanain buat masa depan, heheh :). 

Cerita dikit nih. Dulu, pas SMA, saya termasuk cewek yang biasa aja dalam hal dandan, baju, dan lain-lainnya. Bukan cewek average, below average mungkin (*membatin). Ya sekarang, nggak modis juga sih,  apalagi masuk kalangan fashionista yang glamor itu. Seenggaknya saya udah sadar buat memakai pakaian dan aksesoris yang bagus, indah, serta rapi dan nggak bikin sakit mata orang :p. Back to topic, wajah saya pas SMA bisa dibilang nggak terlalu bermasalah. Jerawat ada, itu pun nangkring di wajahnya nggak nyebar, nggak banyak dan kecil-kecil. Perkara bebersih wajah pun, saya hanya paham dan kenal yang namanya sabun cuci muka dan pelembab Pond's dan Biore yang dikenalkan oleh tivi pada saya << korban iklan.

Pas zaman kuliah, di tingkat 2 lebih tepatnya, asal usulan dari teman (sebut saja namanya Ika :D) dan suntikan dana dari kampus, saya memberanikan diri buat perawatan wajah di dokter kulit di Kramat Jati, Dokter Inong lebih tepatnya. Saya ke sana atas rekomendasi dari kakak tingkat yang juga perawatan di sana. Setelah treatment dengan dokter tersebut, wajah kakak tingkat ini saya lihat jadi bersih, cerah, dan yang pastinya bebas dari jerawat. Maka berbekal bukti nyata tersebut, saya dan kak Rizka (kakak tingkat teman main juga) datang ke Kramat Jati memulai treatment dengan sang dokter. 

Singkat cerita, saya cocok dengan dokter tersebut, berlanjut lah treatment beberapa bulan. Tapi, sempat berhenti karna saya pulang ke Padang dan nggak ada duit buat nebus obatnya. Payah deh. Habis itu saya vakum ke dokter beberapa bulan. Untungnya wajah saya baik-baik aja selama vakum tersebut. Nah, pas kapan gitu ya, waktu lihat wajah, eh kok jerawatan lagi? Balik lagi lah saya ke dokter Inong buat lanjutin treatment jerawat yang tertunda. Pas ketemu dokter, langsung diomelin deh karna saya nakal nggak ngikutin dengan rutin dan patuh treatment dokter. Katanya saya harus ngulang treatment dari awal lagi deh karna treatment sebelumnya jadi sia-sia dan nggak guna karna nggak diterusin. Whoaaa... sediiih!!!

Hal yang sama terulang kembali ketika saya pulang kampung buat liburan kuliah. Dan kali ini saya tidak berniat lagi meneruskan treatment di dokter Inong karna takut ketergantungan pada obat-obatannya. Lagian perawatannya juga bikin dompet saya menjerit nggak kuat, nggak kuaaat. Saya kan pengen juga beli baju, sepatu, tas, dll selain ngurusin muka doang.

Saya sempat putus asa dengan upaya membasmi jerawat. Masalahnya, si jerawat nggak pernah benar-benar hilang dari wajah saya. Jadi, mikirnya ngapain dibasmi? toh dia bakalan balik lagi, dicegah aja deh. Seperti saat ini, pas semangat saya lagi drop banget buat merawat jerawat, begitu baca blog ini di salah satu kotak komentar postingan blog mylovelysister, saya jadi semangat lagi. Vitacid? penemuan terbaru buat menyembuhkan jerawat? apa iya? beneran? serius bisa? Jadi berniat nyobain Vitacid kan jadinya, apalagi habis baca-baca komen di FD. Gimana yaaa... *mikir*
March 09, 2013

Donor darah ke-4

Alhamdulillah, hari ini saya sehat dan bisa kembali mendonorkan darah sesuai niat awal (menjadi pendonor darah tetap sukarela). Kali ini saya mendonorkan darah di PMI DKI Jakarta yang beralamat di Jalan Kramat Raya no. 47 Jakarta Pusat. Berhubung saya naik Transjakarta dari arah Kampung Melayu, maka saya berhentin di halte Pal Putih dan jalan kaki sebentar en dikit buat nyampe ke gedung PMI-nya. Kali ini saya ditemani Dinny yang dengan murah hati mau menemani saya di wiken yang berbahagia ini :)). 

Pas masuk halaman kantor PMI, saya langsung nanya sama pak satpam kalau mau donor ke mana. Pak satpam langsung menunjuk gedung tepat di depan pintu masuk. Kita (saya dan Dinny) segera masuk ke dalam gedung yang dimaksud dan saya kembali bertanya pada resepsionis. Hehe, saya nanya mulu di sana, takut sotoy sih :p. Maklum aja, ini kali pertama saya bertandang ke PMI ibukota, jadi rada grogi.

Oleh resepsionis, saya disuruh mengisi formulir pendaftaran yang berisi keterangan diri yang diperlukan buat database pendonor di PMI seperti nama, tanggal lahir, alamat tempat tinggal, keterangan terakhir donor, riwayat penyakit, berat badan, dll. Formulir ini seperti yang juga ada di mobil donor darah itu, lho. Setelah diisi dengan benar dan lengkap, saya menyerahkan formulir pendaftaran tersebut berikut kartu donor ke bagian pendaftaran yang dijaga ibu petugas yang ramah dan murah senyum. Saya duduk di bangku yang disediakan dan menunggu ibu tersebut meng-entry data saya. Sesekali mata saya beredar ke sekeliling ruangan yang dipadati pengunjung. Rame banget yang mau donor hari ini, antrian tunggu periksa tensi-nya panjang benerrr. 

Setelah data saya di-entry, kemudian saya beranjak ke kursi ruang tunggu, antri menunggu giliran dipanggil buat cek kadar Hb dan golongan darah. Sesekli saya ngobrol-ngobrol dengan Dini dan sekali-sekali nonton tivi sambil celingak-celinguk liatin sekitar dan orang-orang yang akan mendonor. Yah, guna membunuh waktu :p. Kira-kira tiga puluh menit kemudian nama saya dipanggil. Kadar Hb dan golongan darah saya dicek di bagian pemeriksaan Hb oleh seorang bapak berbadan besar dan tegap. Hb saya untuk donor yang ke-4 ini adalah 12,9 gram, selisih 0,4 dari batas ambang dibolehkan mendonor (minimal 12,5 gram). Saya sedikit waswas karna takut ditolak, tapi Alhamdulillah..., untungnya enggak, jadi lega deh :D. Lalu saya dipersilakan ikut duduk bergabung dengan pengunjung lain yang mengantri dokter untuk cek tensi. Ada dua orang dokter untuk pemeriksaan tensi, masing-masing berada di ruangan dokter yang terpisah. Di sini, saya hanya duduk sendiri bersama pengunjung lain, Dinny menolak ikut.

Pas lagi liat-liat dan denger percakapan salah satu calon pendonor dengan ibu-ibu bagian pendaftaran, saya dapat info kalau hari Sabtu dan Minggu merupakan hari yang paling banyak pendonornya, jadi PMI agak sibuk dan rame. O begitu, pantesaaan... Emmm... keliatan sih. Mungkin karna hari senin sampai jumat, pendonor-pendonor masih sibuk ngantor ya jadi nggak sempat nyiapin fisik, mental, dan stamina ke PMI buat donorin darahnya, kayak alasan saya yang datang di hari Sabtu :)).

Nah, setelah nunggu beberapa menit, akhirnya nama saya dipanggil juga ke dalam ruang periksa dokter. Saya kebagian diperiksa di ruangan dokter 1. Di dalam ruangan sudah ada dokter wanita yang menyambut saya dengan senyum :D. Badan beliau kecil tapi cekatan, walaupun umur beliau sudah tak muda lagi. Tensi saya diukur dan alhamdulillah tekanan darah sistole saya 120/70, termasuk normal. Saya diminta menyumbangkan 350cc darah hari ini oleh dokternya. Saya setuju aja karna saya merasa sanggup mendonor segitu dan memang PMI lagi kekurangan stok darah AB.


Kemudian saya masuk ke ruangan pengambilan darah di bagian sebelah kiri ruangan dokter. Sudah ada beberapa pendonor tampak sedang diambil darahnya di dalam ruangan tersebut. Kalau saya tidak salah ingat, ada 10 kasur tersedia di bagian kiri ruangan pengambilan darah tersebut. Sedangkan di bagian sebelah kanan dari ruangan dokter 1 tadi, saya sempat melihat ada seorang bapak-bapak sedang melakukan donor apheresis (donor darah untuk komponen darah tertentu).

Saya menyerahkan kartu donor dan formulir-formulir lainnya ke petugas dan duduk menunggu. Pas saya duduk dan menunggu nama saya dipanggil, mata saya terpancang ke bagian tempat cuci lengan donor. Oh ya! saya harus nyuci dan mastiin lengan saya bersih dan steril dulu sebelum donor! Lupa deh, padahal udah nonton video step by step prosedur donor darah oleh PMI ini, tapi saya masih aja kelupaan :p. Maka saya bergegas ke sana dan mencuci bersih lengan kanan dan kiri saya lalu mengeringkannnya dengan mesin pengering dan dilap pake tissue biar benar-benar kering. Lalu, saya kembali duduk manis, menunggu. Aaah... hidup adalah sebuah penantian...


Setelah nunggu beberapa menit, nama sapa dipanggil oleh petugas pria. Saya ditanya lengan donornya sebelah kanan atau kiri. Karna saya lebih suka yang kanan maka saya bilang lengan kanan ke petugasnya. Saya berbaring di kasur yang berada di dekat pintu masuk. Di sebelah kanan saya liat udah berbaring mas-mas bergolongan darah B yang barengan sama saya waktu pemanggilan nama tadi. Petugasnya mendahulukan mas-mas tersebut karna melihat saya masih rempong dengan tas dan hape, hehe. Yasudah. Saya tungguin petugas tersebut mengambil darah mas-mas tadi sambil nonton tivi yang bahas bola sambil melipat lengan baju kanan saya.

Giliran saya tiba, lengan atas saya dibalut alat pengukur tensi dan mulai dipompa hingga tangan saya terasa diremukkan dan agak kebas. Petugas menanyai golongan darah saya kembali guna memastikan, kemudian tangannya udah sibuk mempersiapkan selang, jarum, dan kantong darah. Saya mulai mengatur nafas dan membaca basmalah. Semetara itu, petugas PMI membersihkan lengan donor saya dengan alkohol dan mulai mengarahkan jarum ke sana. Nyeeessss... tusukan jarumnya menghasilkan sensasi ngilu.

Alhamdulillah, darah saya segera langsung mengalir lancar ke kantong darah yang berada di bawah meja sebelah ranjang. Pas saya nengok ke lengan kanan, ngecek tempat jarum menempel, saya agak kaget karna petugasnya menusukkan jarum tersebut bukan ke lipatan tangan, tempat biasanya kalau saya mendonor. Kali ini jarumnya menempel di pembuluh darah saya (yang hijau) yang terlihat jelas di permukaan kulit itu lho. Errr, untung darah saya nggak muncrat ke mana-mana pas ditusuk jarum gede tersebut pas di pembuluh darah yang gede itu >,<.

Seperti biasa, sembari menunggu darah saya diambil, saya kadang bengong, kadang nonton tivi, kadang liatin langit-langit, dan liatin hape aja sambil gerak-gerakkin jari-jemari di tangan kanan. Kayaknya donor kali ini tangan saya terasa agak kebas dan dingin boook... Jadi saya terus gerak-gerakkin jari-jari membuka dan menutup biar tangan saya nggak mati rasa. Untungnya saya juga tidak pernah mengalami pusing atau mual selama mendonor, anteng-anteng aja. Mungkin ditunjang dan tertolong banget ya karna punya body besar dan nafsu makan yang juga nggak kalah besar, hahaha :D.

Kira-kira lima belasan menit atau kurang, darah saya sudah selesai disedot. Petugas di samping saya mulai membenahi kantong darah dan mengambil 3 tube darah saya sebagai sampel guna diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Darah saya, begitu juga darah para pendonor lainnya akan diperiksa dengan lebih teliti lagi dan seksama sebelum nantinya darah tersebut diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Berhubung saya tidak pusing dan tidak mual, saya segera merapikan lengan baju dan diri lalu meluncur ke kantin untuk mengambil makanan yang disediakan PMI. Makanan yang disediakan PMI hari ini adalah mie rebus, telur rebus, multivitamin penambah darah, susu coklat, dan segelas air putih. Alhamdulillaaah... enak! Saya makan dong dengan lahap karna lapar :p

Setelah makan, saya keluar dan menemui Dini yang menunggu di resepsionis. Kami kemudian shalat (di mushala PMI yang kurang nyaman dan kecil di sebelah atm dekat gerbang masuk >,<) lalu naik angkot ke Kampung Melayu buat makan (lagi di PH, hahaha) lalu ngambil foto wisuda Dini di Myra Photography.

Alhamdulillah, Allah masih memberkahi saya kesehatan dan kekuatan sehingga hari ini saya bisa kembali sedekah darah. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan pada saya sampai saya tidak mampu lagi mendonorkan darah saya. Saya selalu berharap dan berdoa semoga darah saya sehat dan bermanfaat bagi yang membutuhkannya dan tidak terbuang karna rusak :p. Amiiin, amiiin...

Mari, jadikan donor darah sebagai gaya hidup!
KITA SEHAT, MEREKA SELAMAT

March 05, 2013

Promosi...

... Selama ini dasar yang dipakai untuk menilai seseorang yang akan dipromosikan adalah pemeriksaan kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang dilakukan oleh Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan). Namun, pada era keterbukaan ini kiranya penilaian itu perlu ditambah dengan kepatuhan. Seseorang layak dan patut belum tentu mempunyai tingkat kepatuhan seperti yang diharapkan. Disamping itu kepatuhan merupakan ukuran yang sangat penting dalam melaksanakan tugas yang dibebankan dan menjadi tanggung jawab seorang pemangku jabatan struktural agar dalam melaksanakan tugas pekerjaan selalu dalam jalur yang telah ditetapkan. 

Sebagai lembaga yang profesional dalam penyediaan kebutuhan informasi statistik baik untuk pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta masyarakat luas secara cepat, tepat, dan akurat maka BPS mempunyai tanggungjawab dan tantangan besar yang harus dihadapi. Tak ada pilihan lain bagi warga BPS kecuali selalu berusaha dan bekerja keras untuk meningkatkan mutu dan data statistik yang dihasilkan. Hal ini bisa dilakukan antara lain melalui peningkatan mutu SDM, penguasaan TI, disipilin, serta penyegaran wawasan. Dengan demikian, untuk mewujudkan misi organisasi maka mutasi, baik yang bersifat promosi maupun rotasi adalah salah satu hal yang harus dilakukan.
...

*disalin dari Buletin HAISSTIS No. 3 Tahun 5, Edisi Oktober.